Cerpen aying

Aying'
Oleh Sejuk Prianto
Di pagi sebuah hari, hari indah di sebuah desa nan indah dengan sawah-sawahnya dan rumah adatnya, terpampang segala kesibukan manusia. Ada yang bertani, berdagang berlalu lalang menjalani kehidupan, dengan kepribadianya dengan keterbedaanya.

Pandanganku tertuju pada seorang anak, ia kurus tinggi dengan baju cingkrangnya berwarna putih, kaca mata tebal dan rambut ikalnya. Ia begitu riangbdan itu terlihat dari raut wajahnya pagi itu.

Dia berlari di pematang sawah, sambil memainkan tanganya ke daun padi tepian sawah. Hijaunya daun itu menyambut paginya hari ini, dan akan menyambut pagi-pagi selanjutnya.

Embun yang menempel di daun padi, membasahi tanganya yang putih dan halus. Ia bersenang-senang hari ini, tapi entah untuk esok dan seterusnya semoga kesenangan selalu menghampirinya. Amin!. Ia mengitari sawah, memutari setiap sisi sawah, menyambar dedaunan padi, menyambar embun pagi, sampai akbirnya ia kelelahan.

"Aah aku lelah" ujarnya dengan nafas tersenggal.

"Aku butuh minum, tapi aku tak membawanya. Sepertinya aku harus pulang." katanya lagi beruntut

Ia berjalan menyusuri aliran ledeng, sesekali ia melompat, berlari, nerjingkat, memainkan tangannya, bersiul tanpa henti. Ia terlalu aktif atau memang sedikit idiot?. Masih dalam proses pembentukan watak. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya ia sampai didepan sebuah rumah, Rumah mungl  khas lampung. Ia menaiki tangga, membuka pintu tanpa mengucap salam.

"Mak!, Aying haus mak. Aying mau minum." ucapnya ke seorang wanita tua, umurnya sekitar 50th di dekat dapur dengan nada sedikit mengeluh

"Coba dulu Ying ambil sendiri, jangan manja begitu. Ayingkan sudah besar."
Dengan sedikit marah aying pergi kedapur dan mencari sendiri air minumnya

"Ya mak maaf aying hilaf" ia tersenyum idiot

Setelah dahaga ditenggorokanya hilang, ia bergegas pergi ke kamanya. Ia kelihatan sedikit terburu, sepertinya ada hal penting dan urgent sekali yang harus dikerjakan.
"Aying masuk sekolah tidak?. Sudah jam 7 ini, siap-sipalah supaya tidak terlambat nanti."

Tak ada sekecap suara menyahut pertanyaan ibunya, mungkin aying masih terlalu sibuk dengan perkerjaan yang penting dikamarnya. Sehingga ia tidak terlalu fokus untuk menangkap sinyal suara wanita tua itu.

"Aying, ying. Aying, cepatlah mandi. Lekas mandi pakailah baju seragam kau yang baru itu lalu sarapan. Ibu sudah siapkan makananan kesukaan kamu ini" nada halus keibuan terlihat jelas di ucapan ini

Masih tak terdengar suara menyahuti suara wanita tua itu. Aying tak menyahut juga ia mungkin sedang mengerjakan PR matematikanya yang memusingkan, rumus algoritma, pytagoras, dan rumus-rumus lainya. Rumus-rumus itu menyupal telinganya, sampai-sampai suara wanita tua itu tak menyentuh gendang telinganya.
Hari semakin siang, jam menunjukan pukul 7:30, Aying tak kunjung keluar dari kamarnya. Hari ini hari Senin, setiap hari senin diadakan upacara bendera rutin disekolah, upacara itu dimulai jam 8 pagi.

Wanita tua itu, ibunya berjalan dengan terburu menuju kamar aying.

Dalam setiap langkahnya ia mengumpulkan tenaga dan niatnya.

"Masya alllah, aying. Apa yang kamu kerjakan di kamar itu, ini sudah jam berapa. Coba kau berpikir sedikit ini hari senin, hari ini upacar Ying." kata-kata ini keluar beberapa langkah sebelum ia menyentuh ganggang pintu kamar aying

"Ying. Astagfirullah." ia membuka pintu kamar aying sekuat tenaganya, sampai membentur tembok sisi belakang pintu, suaranya menggelegar bak petir menghantam sebuah gunung.

Gumpalan panjang terselimut seprey melompat dari atas ranjang. Terpelanting kelantai kayu mirip lemper.

"Perang-perang, sinu siapa yang berani laean aku kah." aying berteriak kaget.

"Aduh mak sakitnya, badanku seperti habis dipukuli dengan para pandawa."
Wanita tua itu, ibunya mendekati aying dan mengarahkan tanganya tepat ke kuping aying yang mungil. Jari tanganya berputar simetris seperti busur berputar 360°. Muka aying memerah, hidugnya seketika tersumbat ingus, matanya menganga lebar pedih, keningnya berubah menjadi hijau.
Sampai terdengar terikan

"Ampun mak, sudah-sudah ampun." ia menjerit menangis seperti babi kesurupan orang. Eh kebalik.

"Ini mak kamu yang mau perang. Berani kau sama mak kamu ini?"

Berjiling jiling memohon ampun kepa ibunya yang sudah naik darah.

"Berapa kali aku panggi kamu, berapa kali aku ingetkan kamu, tapi kenapa kamu tak dengar kata ibu. Tidur pagi tak baik nak, tak baik untuk kesehatan, pamali. Rejeki kita itu pagi datengnya." terus berkata sambil memaikan tanganya dikuping aying yang mungil yang sudah berwarna merah tua.

Muka aying berubah coklat, ingus sudah meler memasuki mulut, matanya tak lagi cuma menganga tapi mengalirkan air mata.

"Ia mak, aying minta maaf. Ampun mak, aying khilaf"

"Khilaf terus kau itu. Hilaf atau memang disengaja?, ying."

"Iya mak, iya. Gak diulangi lagi" merengek.

"Kau itu masih kecil, masih jadi tanggungan orang tua. Jadi harus nurut sama orang tua, taat sama peraturan ibu dan keluarga kamu" wanita tua itu melepaskan tanganya perlahan dari kuping aying.

Muka aying perlahan surut, tanganya menyambar hidungnya mengusap ingusnya dan mengusap aliran air matanya. Ia berusaha tegar menghadapi semuanya, membuka mata lebar lalu bergegas berdiri

"Ia mak maafkan aku, anakmu ini memang bandel"

"Yasudah, segeralah kau pergi mandi. Sudah jam berapa ini, jangan sampai kau telat. Calon pegawai negri itu tak bolehlah telat, harus disiplin, rajin dan rapih. Geh cepat mandi lalu sarapan sudah mak buatkan kamu bubur ayam, kamu pasti suka karena spesial ibu buatkan untuk kamu."
Aying berjalan menyusuri papan kayu lantai rumahnya menuruni tangga, menuju sumur dan mandi.

Setelah selesai mandi ia masuki kamarnya kembali, ia kenakan seragam baru miliknya. Ia terlihat tampan dan gagah dengan seragam atasan pustih bawhan abu-abu. Tampan sekali. Ia kenakan sepatunya yang mengkilat, dengan ikat talinya berwarna merah, gagah sekali. Rambutnya ia minyaki dengan minyak orang aring, disisirnya dengan hati hati secara rapih, hitam dan mengkilap.

Kelur dia dari kamar, dengan langkahnya yang pasti, seperti bangsawan.
"Subhanallah, anaku gagah betu engaku nak. Sudah seperti pegawai saja." ibunya menyambutnya dengan senyuman.

"Yalah anaknya mak ijah, si juragan tempe. Tak ada lagi lah yang bisa ngalahin kegantengan anak kau ini mak." balas Aying sedikit sombong.

"Ya ya Aying anaku. Lekaslah bergegas, ini uang saku mu jangan boros nak. Jadilah orang yang irit dan pintar menabung " ujar ibu Aying menasehatinya.

"Ya mak. Aying berusaha buat tak boros." jawab aying polos.
Aying berangkat kesekolah menaiki sepedanya, sepeda baru yang dibelikan oleh ayahnya kemarin lusa.
Jadilah Aying yang diharapkan ibumu nak.

Cerpen aying Cerpen aying Reviewed by SEJUKPRIANTO on 00.21 Rating: 5

Tidak ada komentar