3 Menguak Novel
BILIK JUMPA SASTRA (BIJUSA) 4
UNIT KEGIATAN BIDANG SENI UNIVERSITAS LAMPUNG
3 MENGUAK NOVEL
Sejuk
Prianto.
Kelahiran 3 novel dari
komunitas berkat yakin lampung, novel berkualitas yang ditulis oleh 3 anggota KOBER. JHON THE BANDIT karya Devin Nodestyo, KAMPUNG TOMO karya Alexander Gb, Dan PAYUGN DARA karya Yulizar Fadlie Lubay.
Acar ini diadakan dalam program
yang di judulkan dengan BIJUSA. BIJUSA adalah singkatan dari Bilik Jumpa
Sastra, suatu forum peluncuran (lounching)
diskusi kesusastra dari buku-buku sastra yang diterbitkan. Didalamnya terdapat
pemaparan tentang buku yang telah diterbitkan, pembongkaran teknis penulisan
dan kualitas dari buku tersebut, komentar-komentar , pertanyaan, masukan atau
juga pengoreksian dari peserta kepada penulisan karya tersebut.
Lounching
dan diskusi diadakan oleh UKMBS Univeritas Lampung, pada 19 Januari 2018 pada pukul 7;30 pm dan bertempat di lantai 1,
Graha Kemahasiswaan Universitas Lampung.
Acara Diskusi kali ini
dimoderatori langsung oleh Maestro sekaligus pimpinan KOBER yaitu Bang Ari Pahala Hutabarat, sedangkan untuk pembahasnya adalah
Kak Iswadi Pratama yang merupakan kepala artistik dari Teater Satu. Peserta
dari diskusi ini adalah para mahasiswa yang bergerak di bidang kesenian kampus
se-Lampung, para senior UKMBS Unila, dan juga tokoh serta penggiat seni kesusasastra di Lampung.
Acar dimulai langsung dengan
sambutan Ketua Umum UKMBS Unila dan dilanjut dengan pembacaan penggalan novel
dari para pengarangnya, pertama adalah pembacaan Novel John The Bandit oleh
Devin Nodestyo (bab 1), dilanjutkan langsung dengan pembacaan Payung Dara Oleh
Yulizar Fadlie Lubay (Bab 3) dan diakhiri dengan Kampung Tomo oleh Alexander GB
Setelah para pengarang
membacakan penggalan novel milik mereka masing-masing, Bang Ari Pahala
Hutabarat selaku moderator langsung memulai acara diskusi dengan sebuah mukondimah,
“ mereka adalah 3 NOVELIS KAMBUHAN, dengan
JIHAD ESTETIS, JIHAD yaitu UPAYA YANG SUNGGUH-SUNGGUH.”
Bang ari juga memaparkan bahwa “LAMPUNG UNTUK PUISI BERADA DALAM POSISI
YANG BERSINAR dibanding dengan Provinsi Lain akan tetapi untuk prosa belum
“
“Untuk kepada prosa belum,
belum bisa dikatakan menggegerkan jika dibandingkan dengan puisi”
Untuk novelis dai lampung yang
mengganggu adalah Ziggy dengan karya-karyanya, ia memang orang lampung tapi
pergaulan sastranya tidak terlibat langsung dengan keadaan Lampung atau tidak
identik dengan Lampung. Ziggy adalah Seorang
indigo, yang keluar dari sirkle perkembangan sastra di Lampung.
Sekilas tentang Ziggy
Zezsyazeoviennazabrizkie
Gadis kelahiran Bandar Lampung, 10
Oktober 1993, ini sudah melahirkan 21 novel. Naskah terbarunya berjudul Semua Ikan di Langit baru saja
memenangkan Sayembara Novel DKJ 2016. Ia pernah bercerita bahwa menulis
memberinya alasan untuk duduk dan berpikir. Di sekolah, dia jarang akrab dengan
guru-gurunya. Namun, dalam pelajaran Bahasa Indonesia, Zesy merasa tulisannya
diapresiasi. Buku-buku Zesy pernah terbit di seri buku Pink Berry Club, School
Locker's Club, dan Fantasteen DAR! Mizan. Beberapa di antaranya Lucid Dream,
Ghost Dormitory in Sydney, Toriad, Teru-Teru Bozu, dan masih banyak lagi.
Jika membaca cerita Zesy,
kemungkinan kita akan menjumpai karakter-karakter yang berbeda dari orang
kebanyakan. Mungkin mereka albino, sociopath, atau memiliki penglihatan
istimewa. Ada banyak kesepian, perasaan tidak nyaman, sekaligus kehangatan di
dalam cerita Zesy. Biasanya kehangatan muncul dari tema persahabatan. Namun,
jangan mengharapkan cerita yang 'aman'. Zesy seringkali mempertemukan
karakternya dengan berbagai situasi sulit. Jalan cerita yang dibangun
senantiasa sulit ditebak dan ditulis secara memikat--mengantarkan pembaca ke
dilema antara ingin segera menuntaskan novel, sekaligus berharap ceritanya
tidak akan pernah usai.
******
“Dikisahkan hujan lebat dan
jatuh 3 novel, buah tirakat dari 3 penulis. Semoga jadi warna, jagad prosa
Lampung dan Nasional. Sebagai motivasi dan tolak ukur. Silahkan hujat ataupun
puji.” Papar Ari Pahala Hutabarat
“Jika ada yang berkenan untuk
menerjemahkan kedalam bahasa lampung, silahkan menuju langsung mengikuti jejak
Bang Udo Z Karzi. Kampung Tomo menjadi=
Pekon Tomo mungkin, John The Bandit jadi Jhon The Begal bisa juga” tambah Bang
Ari melanjutkan.
Ia juga menyapa kepada para
penulis lain “Wahai rekan-rekan yang senang menulis, semoga mampu melahirkan
karya saingan supaya lebih semarak sastra di lampung”.
Setelah beberapa menit
memberikan kata sambutan dan mukondimah kepada para peserta diskusi, Bang Ari
selaku moderator langsung mempersilahkan kepada pembahas yaitu Kak Iswadi
Pratama untuk mengupas tuntas 3 karya yang didiskusikan.
Al Alamah Sastra (Cahaya)
Kak Iswadi Pratama,
Penyampaian hasil
bacaan, oleh kak iswadi Pratama.
Kak Iswadi Pratama berujar kepada para peserta tentang
perasaanya ketika menjadi pembahas untuk ke 3 karya ini, ini bisa di kutip dari
pemaparanya sebgai berikut.
“saya sedikit khawatiran
melakukan siklifikasi, dan saya mungkin tidak bisa detail. Saya seharusnya bukan
orang yang terlalu tepat untuk membahas novel ini, ada Bang Ahmad Yulden, Bang Ari
yang lebih layak untuk membedah buku-buku
ini. Untuk itu supaya sama melengkapi.”
Kak Iswadi memulai dengan rilexs.
3 MENGUAK NOVEL
“Mereka bersamaan, sama-sama
sahabat yang karib dengan saya. Saya bingung kategori apa yang tepat untuk
mereka ber tiga, aktor kum penulis atau penulis kum aktor, tak ada mayor dan
minor diantara kedua keahlian ini, mereka sama-sama melakukanya dengan kerja
keras dan kesungguhan sehingga membuahkan hasil yang maksimal.”
“Mereka tekun dan serius
menekuni keduanya, mereka adalah aktor di komunitas berkat yakin pun sebagai
penulis yang mumpuni, tapi itu tak penting. Akhirnya mereka berhasil
membukukanya, tak banyak seniman muda dengan serius seperti ini. Teater dan
sastra, menjadi proses nyata, dengan gelora yang semangat belajar dan berbuat
tak pernah padam. Ini tak lepas dari jahatnya Ari Pahala Hutabarat, dengan tanpa
toleransi apapun di Provinsi ini atau negri yang penuh oleh para pemalas yang
artistik. “
Lalu Kak Iswadi Pratama memulai
pembahasan lebih dalam pada karya Alexander GB.
ALEXANDER GB
“Latar Ulu Belu, Novel Kampung
Tomo, merupakan novel yang sangat menggambarkan apa dan bagaimana Ulu Belu.Ulu
Belu di ceritakan sebagai daerah tentaram sejuk penuh bukit-bukit, dalam
Kampung Tomo tergambar bahwasanya keindahan-keindahan itu menutupi
konflik-konflik masyarakat di munculkan dalam novel.”
Kak Is Memaparkan sebuah
filosofi tentang kebersihan “ hal ini seperti menyapu rumah, lalu kotoran
diletakan di bawah tikar. Keliahatan bersih memang, namun ketika tikar dibuka
baru kelihatan kotornya.”
“Alexander GB mengambil sudut
pandang orang pertama POP dalam novelnya, lalu menceritakan sebuah konflik
tentang makam keramat milik keluarga
besar leluhur pendiri ulu belu yang akan digusur untuk pembangunan tambang gas
bumi. Keluarga besar terpecah menjadi 2 golongan, 1 golongan merupakan kontra
akan pengkramatan, alih-alih menuduh pihak lain sebagai penganut ilmu hitam
menyembunyikan dalih lain yaitu uang. Pihak kontra didukung bersama dengan cs pemilik modal (kapitalis) dan anak buahnya.
Golongan ke 2 yang mempertahankan pengkramatan, denga tokoh Mbah Saruban yang
menentang penggusuran. Sampai tomo datang, karena mendapat kabar bapaknya
dibunuh. Satu hal yang unik, Tomo sebagai tokoh utama, seperti tak ada tempat
di antara dua kelompok ini, tergambar seakan diterima tapi tak diterima. Seperti
seorang tamu yang datang kerumah dipersilahkan masuk tapi tak disuruh duduk.
Tomo tak jadi pahlawan (heroik). Diluar konflik, ada sub alur atau plot, yaitu
konfik masalalu antara tomo dan ayahnya. Perlakukan buruk ayahnya kepadanya,
itu yang membuat ia meninggalkan desanya. Luka psikis yang belum sembuh,
situasi ambigu kematian, bersedih atau kehilangan (alter ego), Ayahnya sosok
yang menakutkan bagi Tomo. Akhirnya ia datang dan terlibat, sampai akhir dan
meninggalkan tempat itu karena para kontra kubur. Digambarkan ia hidup atau
mati tidak jelas, iadas as machina,
Tomo seorang laki-laki romantisme kepada
welas. Tergambar Laki-laki yang benar-benar laki-laki.”
“Konflik yang menjebak penulis
untuk menampilkan hero. Sudut pandang orang pertama utama, kelebihanya bisa
melibatkan para pembaca dalam mengalami apa yang dialami oleh tokoh. Sama
sepeerti Yulizar. Membuat tokoh utama memuai mekar keluar dari tokoh utama,
penggambaranya begitu dramatis atau berlebihan, memunculkan tipikal. Tapi tidak
terjadi di Alexande GB.”
“Asyik membca latar cerita dari
ulu belu, membahas konflik kepentingan dan sosial yang runyam”
“Sub plot, konflik ayah dan
anak bisa dimunculakn diberi ruang, nuansa magis juga ada yaitu mbah Saruban.
Tradisi realis di awal, dan magis diakhir yaitu mbah saruban yang sakti.
Potensinya untuk relisme magis itu bisa dikembangkan sangat kuat.”
Catatan hasil bacaan saya
Menurut saya Novel Karya Abang
GB ini sangat menggambarkan bagaimana suasana alam desa di Ulu Belu, terlepas
dari konflik yang ada di dalamnya. Penggambaran yang jelas itu diikuti pula
oleh alur cerita yang memang maju, dan sedikit meraba kebelakang yaitu
bayangan-bayangan masa kecil yang suram sangat mudah untuk dipahami sehingga
pembaca merasa ada dalam cerita bahkan jika pembaca memiliki pengalaman psikis
yang sama, maka pembaca akan merasuk menjadi seorang Tomo, yang canggung antara
benci atau cinta, yang kikuk sebab ketegangan rumah yang lama tak ia sambangi.
Pemilihan cerita ibu meninggal dan tergantikan posisinya dengan ibu tiri,
menghipnotis seorang pembaca untuk kembali mengenang cerita-cerita jahat
seorang ibu tiri. Walaupun itu tak tergambar jelas namun setiap pembaca seakan
menyimpulkan sendiri.
Penggambaran tokoh pembantu
yang real namun samar juga terlihat, sosok mbah uti disini sangat samar. Siapa mbah
uti? Masih hidup atau sudah mati? Kalau hidup, kenapa sering muncul dan hilang
secara tiba-tiba?. Keluarga besar manusia keturunan pendiri desa juga tergambar
sebagai mana manusia pada umumnya, ego, matrealistis, agamis yang dijadikan
kedok, pergulatan antara idealis atau masa depan bergejolak begitu saja, saling
berbenturan sehingga pembaca selalu menyimpulkan premis-premis baru di sela
nafas saat membaca novel ini.
Pengambilan isu, pemilihan
konflik besar, pembagian menuju sub konflik kecil yaitu masa lalu, benci,
cinta, tanggung jawab, dan kemanusiaan seperti teremban langsung kepada tokoh
yang tergambar sebagai laki-laki tangguh.Sub konflik yang banyak itu tak
kunjung usai dan selalu membayang dalam perjalanan menuju pemecahan konflik besar.
Dan semua terlupakan oleh penyelesaian konflik besar itu sendiri. Antara hidup
dan mati yang saya tangkap dari ending novel ini
Devin Nodestyo
“2 tema yang membayang dalam
novel, 1) petualang balas dendam kakanya, sebernarnya terbalas. 2 tema yang tak
muncul di awal, pertengahan membayang diakhir memuncak (Percintaan)”
“Menarik sekali seorang penulis
yang tinggal di pramuka, mengambil latar Amerika, Texas, Mexico, Arizona. Tapi
ia bercerita dengan fasih, kenapa begitu karena penulis memiliki kepiawayan tertentu.”
“Bau rumput di dataran amerika
yang kering, bau huja pertama setelah kemarau, koboy-koboy, sangat tergambar
dan terasa, ini perlu kecermatan yang dalam agar tidak janggal.”
“Penulis mengambil Sudut
pandang orang ke tiga. Jika membaca bisa membayangkan keadaan disana, tokoh
utama penjahat yang juga perampok, dengan gambaran tokoh utamanya serba
hitam(simbolisme penjahat), dengan tokoh pronta yang berlawanan. “
“Kisah yang penuh darah, mesiu
dan orang mati. Tapi Jhon juga punya
rasa takut,berlari dari kejaran, dalam sebuah pertempuran juga tak menang
dengan mudah, pernah babak belur, dihianati oleh kawanya, terombang ambing
dilaut, juga dipenjara yang mempertemukan kembali Jhon dengan Jane.”
“Dengan sudut pandang
ketiga, bisa menceritakan dengan bebas
dan gamblang dari tokoh-tokoh bisa fikiran dan semua yang ada di tokoh. Jika tak
cermat penulis bisa saja terjebak, dengan spiler ke seluruh tokoh, jadi satu tokoh yaitu pengarang. Pada
hemingway lebih objektifitas dan subjek.”
“Ending untuk pembunuhan sherif
ternyata salah, kemudian bertemu dengan jane, anak dari sherif yang membunuh
kakanya. Hanya tinggal menikam belatinya tidak jadi karena ia tau ia ayah kekasihnya.”
“Gambaran romantis tergambar
dengan Jhon yang tak pernah kegereja, diajak jane lalu Jhon ikut Ke Gereja”
“Apa yang kau ucapkan saat
berdoa” tanya Jhon kepada Jane,
“kejarlah aku.” Kata Jane
Sisi spiritualis yang
romantis, (ending),
Catatan hasil bacaan saya
Saya merasa seperti melihan
film laga, yang sering di tayangkan di bioskop dan tv. Tergambar jelas sekali
setiap laku fisik tokoh utama, tokoh pembantu lain. Alur yang memang maju
membuat pembaca mengalir saja membacanya dengan cermat dan memungkinkan pembaca
menagkap isi cerita.
Menurut saya dari 3 novel ini
yang paling recomendet untuk di filmkan adalah Jhon The Bandit. Tapi entahlah
ini masih menurut saya yang memang suka dengan film laga aksi.
Pemilihan latar yang menurut
saya sangat mengesankan, bertambah mengesankan sekali ketika memang
penggambaran secara detail. Aku mengira penulis sangatlah serius sehingga bisa
membangun detail latar tempat, peristiwa, waktu dan penokohan seperti itu. Tentu
memerlukan konsentrasi dan energi yang sangat besar.
Yulizar Fadlie Lubay,
“Sama dengan Alexander GB,
sudut Pandang orang pertama dan utama. Menampilkan kecerdikan pada pembukaan
kisah riwayat, penciptaan alusi antara cerita-ceritanya. Modern dan rakyat.”
“Dari naik damri menceritakan. Semua
hal yang Pernah dialami Patria(Tokoh Utama). Perkerjaan, cinta yang kandas,
cinta yang datang dan pergi, sosialisme, lalu penggganggu hubungan atau
kesenjangan serta bayangan mimpi.”
“Penyampaian data yang lumrah
keseharian di masyarakata dan medsos, namun penyampaian yang segar dari Yulizar.
Biasanya tak menguatkan cerita, biasanya hanya untuk menunjukan bahwa ia
melakukan riset. Tapi Yulizar tak seperti itu, ia menjadikan semua itu untuk
menguatkan. Ia memilih detail yang cermat dan pas untuk diceritakan, ketika ia
bercerita membawa pembaca ke cerita dan lupa pada latar tempat awal yaitu bus
sampai ke gambir.”
“Sosok yang keluar dari
dirinya, sebagai bentuk super pesona. Atau dirinya sendiri yang di tekan oleh
dirinya sendiri yang rupanya memberontak juga.”
Catatan hasil bacaan saya
Sangat mencengangkan sekali,
saya begitu terbawa dengan kisah sesosok Patria. Ceritanya menghambur
kemana-mana, mendalihkan pekerjaan sebagai alur utama yang ditimbun oleh
konflik cinta, kehidupan, dan juga konflik antara dirinya sendiri. Penyindiran
akan hal-hal yang lumrah terjadi pada modernitas hari ini, dangdut koplo,
toleransi dan lain sebagainya.
Penyampaian sosok manusia yang
sebenarnya secara utuh yng penuh tekanan-tekanan, seharusnya orang yang membaca
ini akan sadar apa yang telah ia lakukan tergambar jelas pada sosok patria,
rasa mual yang ditulis adalah gambaran orang-orang yang selalu berbohong, atau
ego individu yang ditutupi oleh tekanan dari luar agar tidak terlihat,
penimbunan sifat alami yang harus ditutupi karena adat, norma yang terbentuk
sekarang.
Ia menggunakan 2 penokohan
menurutku, bisa menceritakan langsung sebagai Patria atau juga bisa keluar dan
menggambarkan sebagai tokoh lain yang taka ada dalam cerita. Sungguh baik cara
masuk dan keluarnya, nyaris tak ada cidera.
3 Menguak Novel
Reviewed by SEJUKPRIANTO
on
20.29
Rating:
Reviewed by SEJUKPRIANTO
on
20.29
Rating:


Tidak ada komentar